SimpulNusantara.com_Bulukumba, Bukan gagap teknologi, tetapi BUKAN GAPTEK (Berkebun Kekinian, Giat Anak Pramuka Tingkatkan Ekonomi Kreatif). Inovasi kreatif yang dikembangkan SD Negeri 173 Matekko, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, ini menjadi terobosan dalam memberdayakan anggota Pramuka melalui kegiatan berkebun produktif sekaligus membangun karakter, kepedulian lingkungan, dan jiwa kewirausahaan sejak dini.
Program BUKAN GAPTEK merupakan inovasi pendidikan berbasis lingkungan yang mengintegrasikan kegiatan kepramukaan dengan praktik berkebun. Melalui program ini, peserta didik diajak memanfaatkan lahan sekolah menjadi kebun edukatif yang tidak hanya menghasilkan tanaman produktif, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran nyata di luar kelas.
Kepala SD Negeri 173 Matekko sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan (Ka Mabigus), Zulkifli, mengatakan bahwa inovasi tersebut lahir dari keinginan sekolah untuk menghadirkan kegiatan kepramukaan yang lebih kreatif, produktif, dan memberikan manfaat langsung bagi peserta didik.
“Melalui BUKAN GAPTEK, kami ingin mengubah pola kegiatan kepramukaan agar tidak hanya berorientasi pada teori dan keterampilan kepramukaan, tetapi juga memberikan pengalaman nyata kepada anak-anak. Berkebun menjadi salah satu media pembelajaran yang mengajarkan kemandirian, tanggung jawab, kerja sama, sekaligus kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Zulkifli.
Ia menjelaskan, pelaksanaan program ini melibatkan anggota Pramuka secara langsung, mulai dari pengolahan lahan, penanaman berbagai jenis tanaman, pemeliharaan, hingga proses pemanenan. Dengan demikian, peserta didik dapat memahami proses produksi tanaman sekaligus belajar menghargai setiap tahapan pekerjaan.
Keunikan BUKAN GAPTEK juga terlihat dari penerapan pengelolaan lingkungan melalui pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk kompos. Langkah ini mengajarkan peserta didik bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman.
Tidak hanya melibatkan warga sekolah, program ini juga membangun kolaborasi dengan orang tua murid, tokoh masyarakat, serta kelompok tani setempat. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkaya pengalaman belajar peserta didik sekaligus mempererat hubungan antara sekolah dan lingkungan masyarakat.
“Yang ingin kami bangun bukan hanya keterampilan bercocok tanam, tetapi juga karakter anak-anak. Mereka belajar disiplin, gotong royong, bertanggung jawab, kreatif, dan mandiri. Kami juga ingin memperkenalkan bahwa hasil berkebun memiliki potensi ekonomi apabila dikelola dengan baik dan dikembangkan menjadi produk yang bernilai tambah,” tambahnya.
Menurut Zulkifli, kegiatan berkebun dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan konsep ekonomi kreatif dan kewirausahaan kepada peserta didik sejak usia sekolah dasar. Anak-anak didorong untuk memahami bahwa proses menghasilkan sesuatu membutuhkan kerja keras, kreativitas, ketekunan, dan kerja sama.
Lebih dari sekadar kegiatan ekstrakurikuler, BUKAN GAPTEK menjadi wujud pembelajaran kontekstual yang memadukan pendidikan karakter, keterampilan hidup, pelestarian lingkungan, dan pengenalan potensi ekonomi lokal.
Melalui inovasi ini, SD Negeri 173 Matekko menunjukkan bahwa Gerakan Pramuka dapat menjadi wadah pemberdayaan generasi muda yang tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga mendorong lahirnya kreativitas dan keterampilan produktif.
Zulkifli berharap program BUKAN GAPTEK dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan dengan dukungan seluruh warga sekolah dan masyarakat, sehingga memberikan manfaat lebih luas serta menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lainnya.
“Harapan kami, anak-anak tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan, kreativitas, kepedulian lingkungan, dan semangat berwirausaha. Kami ingin menanamkan pemahaman bahwa dari hal sederhana seperti berkebun, mereka bisa belajar banyak hal dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” tutupnya.
BUKAN GAPTEK menjadi bukti bahwa berkebun bukan sekadar aktivitas menanam dan memanen, melainkan sebuah proses pendidikan untuk menumbuhkan karakter, kreativitas, produktivitas, serta kemandirian generasi muda sejak dini.












