SimpulNusantara.com_Bulukumba – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Pertanian dan Teknologi Tepat Guna Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 116 menggelar demonstrasi pembuatan lubang biopori di area samping Kantor Desa Bulo-Bulo, Kabupaten Bulukumba, Rabu (29/7/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu program kerja mahasiswa dalam mengedukasi masyarakat mengenai pengelolaan lingkungan melalui teknologi sederhana yang bermanfaat.
Demonstrasi tersebut mendapat sambutan positif dari warga Desa Bulo-Bulo yang tampak antusias mengikuti setiap tahapan pembuatan lubang biopori. Selain menjadi sarana edukasi, kegiatan ini juga bertujuan mengurangi potensi genangan air sekaligus mendorong pemanfaatan sampah organik rumah tangga menjadi kompos.
Dalam praktiknya, mahasiswa terlebih dahulu membuat lubang di tanah dengan kedalaman sekitar 50 sentimeter. Kedalaman tersebut dipilih karena pada lapisan tanah tersebut aktivitas mikroorganisme cukup tinggi sehingga mampu mempercepat proses penguraian bahan organik. Selain itu, kedalaman tersebut juga dinilai ideal untuk mendukung perkembangan sistem perakaran tanaman.
Selanjutnya, pipa biopori sepanjang 50 sentimeter dengan diameter sekitar 4 sentimeter dipasang ke dalam lubang. Bagian sisi pipa dibuat berlubang agar air hujan dapat meresap ke dalam tanah sehingga meningkatkan jumlah titik resapan air.
Pipa tersebut kemudian diisi dengan sisa makanan dan berbagai jenis sampah organik rumah tangga. Seiring waktu, bahan organik tersebut akan diuraikan secara alami oleh mikroorganisme menjadi kompos yang dapat dipanen dalam kurun waktu sekitar satu hingga dua bulan.
Selain itu, bagian penutup pipa juga diberi lubang sebagai pengatur aliran air agar proses penyerapan berlangsung secara optimal. Semakin banyak lubang biopori yang dibuat, semakin besar pula kemampuan tanah dalam menyerap air sehingga dapat membantu mengurangi genangan.
Mahasiswa KKN-T Universitas Hasanuddin dari Jurusan Ilmu Tanah angkatan 2023, Karmila, menjelaskan bahwa pemilihan kedalaman 50 sentimeter didasarkan pada pertimbangan ilmiah terkait aktivitas mikroorganisme dan perkembangan akar tanaman.
“Untuk kedalaman lubang biopori ini kami buat sekitar 50 cm karena pada kedalaman tersebut aktivitas mikroorganisme cukup baik untuk membantu proses penguraian bahan organik. Selain itu, kedalaman ini juga merupakan area yang efektif untuk perkembangan perakaran tanaman. Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, masyarakat dapat memanfaatkan sampah organik menjadi kompos sekaligus membantu mengurangi genangan air di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Pada sesi diskusi, Ketua Komisi BPD Desa Bulo-Bulo, Kamil, turut mengajukan pertanyaan mengenai alasan pemilihan kedalaman lubang biopori hingga 50 sentimeter. Pertanyaan tersebut dijawab oleh mahasiswa KKN-T dengan menjelaskan bahwa kedalaman tersebut merupakan zona yang mendukung aktivitas mikroorganisme sekaligus efektif bagi pertumbuhan akar tanaman.
Sebagai bentuk tindak lanjut dari kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-T menyerahkan lima unit pipa biopori kepada warga. Bantuan itu diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mempraktikkan pembuatan biopori secara mandiri di lingkungan masing-masing.
Melalui program ini, mahasiswa KKN-T Pertanian dan Teknologi Tepat Guna Universitas Hasanuddin Gelombang 116 berharap teknologi biopori dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. Selain membantu mengurangi genangan air, biopori juga menjadi solusi sederhana dalam pengelolaan sampah organik rumah tangga yang dapat menghasilkan kompos untuk dimanfaatkan kembali demi menjaga kelestarian lingkungan.












